tambah satu lagi pengalaman berhadapan dengan kesoktauan orang. sekitar dua minggu lalu naik travel ke jogja yang penuh penumpang (karena habis long weekend) dengan pak supir yang berdasarkan pengamatan bisa dikategorikan sebagai orang sok tau dan tak mau tau. sok tau karena dia ternyata baru pertama kali ini ke jogja tapi sok ngatur-ngatur penumpang mana yang duluan dianter. tak mau tau karena dia tetep gak mau dengerin arahan penumpang yang sudah bertahun-tahun keluar masuk jogja, bahkan ada yang asli jogja.
yang paling aneh adalah waktu si pak supir maksa mau nganter semua penumpang yang di jalan kaliurang (jakal) lebih dulu. oke itu bakalan make sense kalau alamatnya terpisah gak terlalu jauh. tapi ini satu di jakal km 5, satu lagi di jakal km 14. jelas-jelas jauhannya sampai 10 kilometer. dan terjadilah penelantaran 3 orang penumpang lainnya yang alamatnya masih di dalam ringroad jogja. bener-bener gak mau tau ini orang. padahal keefisienanan kerjanya sangat berpengaruh pada kami-kami ini yang bergantung padanya.
baru kali ini dalam sepuluh tahun sejarah pertavelan keluar masuk jogja ketemu pak supir yang sangat mengganggu tapi tak ada yg mampu menanggulanginya. mungkin karena dia dalam posisi yg paling berkuasa di mobil (daripada diturunin di tengah jalan).
kadang kita lupa orang lain memang lebih tau dari kita, kadang gengsi membuat kita tidak mau mengakuinya. dan kadang pikiran yang tertutup tidak mampu membuat kita melihat segala sesuatu dengan jernih. contoh kecil tadi mungkin hanya sepele, tapi sungguh merugikan diri sendiri dan orang lain. sok tau itu berbahaya, kawan.